Selasa, 26 Februari 2008

Namaku Aisah

"Namaku Aisah, umurku 7 tahun. Pagi hari aku menjadi joki 3-in-1, siangnya aku sekolah di SD, kelas 1. Rumahku di daerah Serpong. Setiap pagi aku berangkat jam 6 dari rumah dan sampai ke daerah Bulungan sekitar jam 7.30. Aku datang bersama keluargaku yang hampir semuanya menjadi joki. Aku punya 3 kakak dan 2 adik, yang satu umurnya 4 tahun, yang satu lagi berumur 1 tahun. Secara bergantian, salah satu kakakku menjaga adik-adikku dirumah, sedangkan yang 2 orang lainnya menjadi joki. Setiap hari minimal sekali aku diajak naik mobil orang yang mau menggunakan jasaku untuk bisa melewati kawasan 3-in-1. Uang yang kudapat kira-kira sekitar Rp.10.000-20.000. Uangnya aku bagi dua dengan adeku. Aku pakai uangnya untuk membayar buku sekolah. Biaya sekolah gratis tapi aku harus bayar bukunya, kalau sekarang dipinjamin aja. Kalau sudah selesai, aku kembali ke daerah Bulungan untuk nantinya pulang kerumah bersama-sama keluargaku. Aku sudah dikasih tahu sama Ibuku untuk berhati-hati dan diajari gimana caranya untuk kembali ke daerah Bulungan. Sejauh ini tidak ada masalah dengan preman atau joki-joki yang lebih besar, kalaupun ada yang malak dikasih saja uang 1000 atau 2000 rupiah, mereka biasanya pergi. Adeku yang 4 tahun nakal, selalu minta dibelikan ini itu. Kalau yang 1 tahun ngomongnya belum lancar palingan cuma manggil bapak aja. Bapak saya kerja di Tomang jadi tukang derek. Kalau temen Aisah pernah tuh diangkut petugas tapi Aisah ga pernah. Kalau ada petugas lari aja."

Kira-kira itu informasi yang aku dapat dari joki kecilku pagi ini. Perasaan kasian, sedih, terharu, khawatir dan juga bangga bercampur aduk. Ketika pertama kali ngangkut dia untuk bisa melewati daerah Sudirman menuju ke kantor di daerah Kuningan, rasanya hampir ga percaya ada anak sekecil itu pagi-pagi sudah berada dipinggir jalan untuk cari uang. Badannya kurus dan terlihat sekali keluguannya dari kata-kata yang digunakan selama kurang dari 10menit dia bersama aku dan Aris. Aku dan Aris cuma bisa senyum-senyum melihat jawaban-jawaban dan tingkahnya...lugu dan sangat anak kecil sekali. Aku jadi ingat anak sendiri dan ponakan-ponakanku. Miris rasanya...membandingkan keadaannya. Sekecil dia tapi sudah harus bertanggung jawab mencari uang sendiri untuk sekolahnya. Bagaimana nasibnya nanti kalau sistem 3-in-1 diganti dengan sistem seperti tol, berarti hilang "mata pencaharian" Aisah ya...Mudah-mudahan kamu jangan sampai putus sekolah ya Aisah...Hati-hati ya Nak!!!

2 komentar:

eg1ncute mengatakan...

Poor Aisyah.... Miris memang mendapati kenyataan kerasnya hidup di Jakarta. Yg ga mungkin jadi mungkin, yang haram jadi halal. Tp Aisyah merupakan potret perjuangan hidup di ibu kota yg kejam & keras.

I can do nothing, cm bs berdoa semoga Aisyah bisa terus berjuang bertahan hidup & memperbaiki perekonomian keluarganya. Bukan tidak mungkin 20 tahun yang akan datang, Aisyahlah yang menjadi salah satu pengguna Joki 3 in 1, atau pengguna tol yang ada di jakarta. AMIN....

ratunacan mengatakan...

Inget Reff lagunya Iwan Fals, yang judulnya: Sore Tugu Pancoran

....
anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
....